pada suatu malam saat saya melaksanakan ritual jam 12 malam saya (makan), ada sekor kucing kecil yang datang menghampiri saya dan duduk di depan saya, dengan memasang ekspresi solah ia lapar dan meminta apa yang ku makan, aku masih bersikap bodo amat dan masih melanjutkan kegiatan itu dengan enjoy.
Namun lama kelamaan hati ku pun luluh melihat ekspresi kucing itu, dan aku pun bertanya, hey apa yang kau minta dari ku yang tak punya apa apa ini.. sambil terus menatap ku seolah kucing itu mengerti apa yang ku katakan, iya menjawab pertanyaan itu, tentunya dengan nada dan bahasa kucing "miaww" dengan lirihnya. Hembb anehnya aku pun seolah olah mengerti dengan jawaban itu dan aku menyahutinya.
Oh.. kamu mau apa yang aku makan ini?
dan ia pun mengeluarkan suara itu lagi "miaww" seolah benar iya meminta makanan ku.
semakin aku lupa diri bahwa logika kucing tentu berbeda dengan manusia. dan malah menanyainya. Dimana saudara saudaramu itu? dulu kau sering bermain dengan tiga saudaramu itu kenapa kini kau sendiri beberapa hari ini kulihat. sialnya dia menyahuti lagi "miaw miaw" kini nadanya agak berbeda dari nada tadi dan intonasinya pun lebih lambat, seolah menandakan bahwa ia mengisyaratkan kepergian saudara yang tak ia ketahui dan rasa kesendiriannya setelah kehilangan mereka.
Dan semakin aku mendengar suara itu seolah menggelitik hati dan fikiranku untuk bertanya lagi, hay apakah kau rindu saudara saudara mu? dan bagaimana kau bisa menjalani kehidupan mu sendiri? setelah semua yang pernah kalian lalui bersama. bangsatnya lagi dia mengaung lagi seolah menjawab pertanyaan ku itu. terlintas dalam benak "apakah aku sudah gila atau kucing ini yang benar benar sakti hingga mengerti perkataan ku". kini malah perasaan ku malah menerjemahkan aungan kucing itu sebagai luapan hatinya yang kosong dan sedang merindu atas kebersamaan yang pernah mengisinya.
ah siall memang, semua itu terjadi begitu saja, kucing itu adalah kucing kecil kesayangan adik terakhirku, yang selalu berada di dalam rumah dan melihat semua kejadian yang terjadi di sana, dan ketika ia mendekati ku dengan tubuh kurus dan warna krem yang lusuh itu seolah ia ingin menjadi teman ku. apakah kucing bisa mengerti perasaan manusia, ah entah lah yang ku tau aku ingin sekali mennyanginya seperti adik ku sendiri.
akhirnya makanan ku yang berada di tangan tak tega untuk ku habiskan semua sisa sedikit yang bisa ku berikan, sembari ku berikan sisa nasi dan lauk ku tadi aku aku berucap, selamat malam kucing makanlah yang kenyang dan istirahatlah yang nyenyak karena besok hari hari yang berat itu harus kau hadapi dengan tenagamu. dan tumbuhlah besar untuk menjadi kucing pemburu tikus yang handal. kita lanjut besok lagi ya ngobrol ngobrolnya.

0 comments: