Rabu, 20 April 2022

STOISME TERAS DAN KISAH ZENO

Pict: Filosoi Teras By : Henry Manampiring

Setois adalah sebuah ide filsafat yunani kuno yang saya baca dari buku teman saya yang berjudul "Filosofi Teras" Saya masih ingat betul tentang orang yang pertama kali belajar dan mengenalkan terkait stoisme. 


Kira-kira lebih dari 2.000 tahun lalu, Zeno berlayar dari Phoenica (kini berada di sekitar Lebanon dan Suriah) menuju Peiraeus (kota pelabuhan di Athena) melintasi Laut Mediterania. Di tengah perjalanan, kapalnya karam. Barang dagangannya tenggelam. Dia terdampar dan terlunta-lunta di Athena.


Menggelandang di tempat kelahiran para filsuf besar Yunani Kuno– seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles–rupanya mendatangkan berkah bagi Zeno. Pedagang kaya yang jatuh miskin dalam sekejap itu tertarik dengan sebuah buku yang menggambarkan Socrates. Dia bertanya kepada pemilik toko buku, di manakah dia bisa menemukan orang seperti Socrates. Kebetulan saat itu Crates dari Tivai, seorang filsuf aliran Sinisisme yang menjalani hidup asketis di jalan-jalan Athena, lewat. Si pemilik toko kontan mengarahkan Zeno agar mengikuti Crates.


Setelah berguru kepada Crates dan sejumlah filsuf, Zeno mengembangkan sistem pemikiran sendiri. Karena senang mengajar di stoa, teras berpilar di Agora (semacam alun-alun di Athena), filsafat Zeno kemudian mendapat sebutan “Stoisisme”.


Berbeda dengan filsafat pendahulunya yang kerap membahas persoalan-persoalan pelik (seperti realitas, manusia, dan pikiran) Stoisisme lebih menekankan kepada etika, lebih tepatnya tentang kebajikan dan ketenangan jiwa. Mungkin karena ceruk yang unik ini, Stoisisme menjadi populer dan bahkan berkembang hingga periode Romawi Kuno, atau lebih dari enam abad setelah kelahirannya.


Sampai pada bab 1 di buku itu saya mendapatkan kesimpulan tentang pemaknaan tentang klasifikasi hal hal sederhana, apa yang ada di diri kita dan bisa kita kendalikan dan apa yang tidak ada dan tidak bisa kita kendalikan (External faktor). Di buku itu saya dapat mengerti ternyata saya kurang mengerti tentang kekurangan yang ada di diri saya, dan memaksimalkan apa yang bisa saya kendalikan dan menghiraukan apa yang tidak bisa saya kendalikan. 


Saya merasa bahwasanya Filsafat stoisisme ini bisa di jadikan terapi bagi orang yang mengalami depresi, karena biasanya orang yang mudah depresi itu menurut pemahaman saya setelah membaca buku ini di akibatkan oleh terlalu berharap atau menaruh kebahagiaanya pada faktor external yang tidak bisa kita kendalikan seperti, Nilai, Omongan orang lain, kegagalan, expektasi yang terlalu tinggi tanpa menyadari kemampuanya. 


Dan di dalam buku ini di jelaskan bahwa kita harus mampu memaksimalkan apa yang bisa kita kendalikan ( Under Control ) dan memikirkan kemungkinan terburuk dari apa yang kita bisa lakukan, dan berdamai denganya. Toh kata temansaya " Manusia itu punya Limit ( batasan) yang tidak bisa dia lampaui, dan manusia itu tidak sama".


Nb : Jika kurang puas bisa baca sendiri bukunya (Filosofi Teras) 

Previous Post
Next Post

post written by:

Hey my name is jack

0 comments: