Tak terasa rupanya satu tahun kini sudah berlalu, dan kini sudah berada pada tahun 2022. Dan masih banyak perkara yang belum bisa kita selsaikan.
Tapi paling tidak pada akhir tahun ini lah awal dari pada mimpi mimpi baru mulai tersemai, awal dari ekspektasi baru terwujud, saya tidak akan berdoa untuk kedepanya lebih mudah dan lebih baik dari sebelumnya, tapi saya akan akan mengucap di awal tahun ini semoga Saya selalu di beri kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi apapun yang terjadi satu tahun kedepan.
Terlepas angan angan saya satu tahun yang lalu tak bisa terrealisaikan saya harus belajar ikhlas dan memperbaikinya, alih alih menyesali itu saya lebih suka untuk benar benar memasang target dan menentukan tujuan baru bagi diri saya. Mengingat bahwa kehidupan itu tak kan semudah ekspektasi saya harus memasang dan mengajar mental serta fikiran saya agar tetap teguh pada apa apa saja kebenaran yang diyakini nya.
Ada yang melihat pergantian tahun hanya sebagai moment biasa biasa aja, ada pula yang melihat pergantian tahun sebagai ajang evaluasi besar besaran. Pada intinya kita itu sama slalu ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dari kemarin seperti itu lah hemat fikir saya tentang pergantian tahun. Pada intinya adalah kita senantiasa harus terbarui setiap harinya agar menjadi insan yang adaptif.
Tak serta merta hanya euforia semata ke istiqomaah kita di uji di sini ketabahan hati kita di uji di sini. Pada forum tertinggi kahsanah perkopian saya belajar bahwasanya setiap kita menemui orang baru dan berbicara dengannya ada daripada diri kita yang terbarui, meskipun itu hanya sedikit.
Saya teringat bisik kawan saya
"Lezat itu di lidah, Puas itu di perut, Senang itu di dada, Tetapi syukur itu di ruh."
Kata kayanya memang nyeleneh multi tafsir tapi setelah saya pikir kok ada benarnya, dalam benak saya berkata.
" Jangkerek,,, kok enek bener e omonge dee, kelebon filsuf ndi cah iki" Dalam bahas indonesia berarti "jangrik,,,, kok ada benarnya omongan dia, kesurupan filsuf mana dia"
Dari perkataan dia ini saya tafsirkan bahwasanya hidup memang penuh makna pintar pintar saya saja memaknainya. Dan kenikmatan yang paling hakiki adalah dimana ketika kita bisa mensyukurinya.
Maka dari itu, setelah usai pertapaan saya akan kembalilagi untuk bergrilya dalam mendan perkopian, tentunya dengan semangat yang membara. Untuk mencari temuan temuan ide baru, dan untuk tetap berkontribusi pada khasanah perkopian.
0 comments: